Saturday 28 January 2017

Bali-Lombok: Ketika Aku Hilang dan Menemukan Part 2

Mari kita mulai dari awal.
“Fiks. Lebaran kita ke Bali Lombok ya!”
Kurang lebih begitu chat yang dikirimkan Diah pada saya, dua bulan sebelum hari H.
Saya yang terbiasa pergi tanpa planing pun hanya mengiyakan, tanpa kemudian membuat itin atau yang lain. Bahkan baru sebulan kemudian mulai mencari tiket pesawat ke Bali.
Kenapa pakai pesawat? Kan mahal. Katanya Backpaker miskin. Mungkin jika menggunakan bus atau kereta akan lebih murah. Namun, waktu yang kami miliki tidak banyak. Lebih tepatnya waktu yang dimiliki Diah untuk ‘melarikan diri’. Jadi, dari pertimbangan waktu akhirnya kami memilih pesawat, dan mencari tanggal dimana harga tiket pesawat masih murah. Terkadang waktu memang bisa dibeli dengan uang, guys. Lagi pun, sudah ada sponsor ini. Haha.
Memangnya, tanggal-tanggal lebaran gitu tiket pesawat ada yang murah? Ada. Rajin-rajin saja cek website maskapai penerbangan. Bahkan sekarang ngecekin website maskapai penerbangan itu jadi semacam keisengan tersendiri. Kali aja tiba-tiba mereka ngadain promo yang harga tiketnya sama kaya kalau beli makan di warung padang, sebelum pajak bandara.
Tapi, karena booking sebulan sebelum keberangkatan, harga tidak terlalu memuaskan. Tapi lumayanlah mengingat tanggal itu adalah tanggalnya orang liburan. Yap, ngga ada seminggu setelah lebaran. Sekitar satu juta untuk dua orang telah membeli sekian jam perjalanan dibandingkan menggunakan moda transportasi lain.
**
“Di, katanya berangkat jam 5,” ucapku pada Diah yang masih terbaring di kasur. Jam di handphone menunjukan waktu subuhnya WITA.
“Sebentar lagi ya.”
Pagi ini kami berencana menelusuri Bali bagian Selatan. Setelah browsing semalam, ada dua destinasi wisata yang akan kami tuju. GWK dan Ulu Watu. Jangann tanya, tentu kami tidak tahu jalannya. Tapi, masih ada GPS dan mulut yang bisa kami gunakan untuk bertanya kan?
Pukul enam akhirnya kami keluar dari penginapan dengan hanya membawa kamera dan beberapa hal penting yang ditaruh di tas kecil yang dibawa Diah. Tas besar kami tinggalkan di kamar. InsyaAllah aman. Lagipun ngga ada benda berharga. Kami meluncur ke Selatan mengikuti panduan Map di HP.
Pagi di Bali itu, menyenangkan. Sama seperti di tempat-tempat lain, jalanan masih lenggang dan udara masih segar. Pemandangan juga terlihat lebih menyenangkan di bandingkan di siang hari meski dalam kondisi yang sama.
Namun, kami ada masalah. Memori penyimpanan kamera kami limit. Padahal, tujuan jalan-jalan itu selain untuk melihat pemandangan baru, apalagi kalau bukan untuk foto-foto. Kamu juga gitu kan? Jadi sepanjang perjalanan kami melihat kanan kiri, mencari toko elektronik yang sudah buka dan menjual kartu memori penyimpanan data kamera. Hasilnya nihil. Sepagian ini, jarang sekali toko-toko yang sudah buka. Adanya pasar pagi yang menjual sayuran mayur. Kami berpasrah, berusaha memutar haluan, foto yang penting saja.
Seorang penduduk lokal yang sedang berdoa diarea GWK.
GWK atau Garuda Wisnu Kencana adalah tujuan pertama kami. Tentu nama ini sudah tidak asing. Biasanya kalau anak-anak sekolah study tour, salah satu andalan tujuan wisata, ya GWK ini. Sering sekali foto berlatar patung Wisnu raksasa mejeng di wall medsos. Maka, karena ingin pula merasakan study tour yang tidak pernah saya rasakan, jadilah kami study tour ala-ala.

Ngga asing dengan patung ini kan?
Tapi kami punya masalah lagi. Map di HP sepertinya menuntun kami ke jalan yang mmm, tidak salah. Bener sekali malahan. Karena Map ini menuntun kami menggunakan jalur tercepat, maka kami pun melewati jalanan yang jika dilihat, bener ngga sih ini menuju GWK yang terkenal itu? Ya, kami melewati gang sempit, jalan sekitar persawahan, jalan yang masih tanah dan tidak ada petunjuk jalan sama sekali. Kami sempat sangsi. Tentu saja. Namun, kepercayaan pada map masih ada. Soalnya, tidak ada pilihan lain kan? Dan, akhirnya kami sampai juga di depan pintu gerbang GWK dengan jalur tercepat karena bebas macet dan lampu lalulintas. Pyuh, leganya.
Tebing Kapur

GWK pagi, juga masih sepi. Hanya ada pengunjung satu dua, termasuk kami, dan beberapa penduduk lokal. Sepertinya penjaganya juga belum siap-siap amat. Kami yang tidak tahu menahu, dan sebelumnya tidak mencari tahu ada apa saja di GWK termangu-mangu. Kita mau ngapain di tempat seperti ini ketika memori penyimpanan kamera limit? 
Diapit tebing

Setelah membayar tiket yang saya lupa harganya, kami memasuki area GWK yang luaas. Karena bingung mau ngapain, kami bertanya pada petugas tiket, mba-mba cantik berbaju adat Bali. Siang nanti akan ada pertunjukan tarian. Ternyata kami datang kepagian. Sedikit kecewa karena itu diluar rencana. Akhirnya kami memutuskan berjalan-jalan saja dan memenuhi ambisi saya untuk study tour ala-ala, wujud balas dendam karena SMA ngga study tour ke Bali.
Ini nih si Garuda



GWK itu, ya seperti itu. Ada pura, ada sesaji, ada mbak-mbak yang lagi berdoa, ada dua patung besar, ada taman-taman bunga, bukit kapur yang dibelah dan dibuat jalan di tengahnya, lapangan, dan pemandangan dari ketinggian. Tidak bisa dibilang indah banget, tapi tidak juga jelek. Namun, jika jauh-jauh dari Jawa hanya untuk kesini dan membayar tiket yang cukup tinggi, rasanya sayang. Apalagi jika tanpa menonton pertunjukan seperti kami dan tanpa guide. Sayang bangettt. GWK, menurut saya baik untuk alternatif tujuan saja.
Setelah sekitar satu jam, dan merasa sudah puas mengeskplor GWK tanpa tahu apa-apa, kami memutuskan untuk menuju destinasi selanjutnya. Kami masih harus ke Selatan lagi. Ulu Watu.
Jalan menuju Ulu Watu mengingatkan saya pada jalan menuju pantai Gunungkidul, Yogyakarta. Bukit, jalan berkelok-kelok dan pemandangan khas tanah kapur. Yang paling menyenangkan adalah, jalanannya sepi.
Stair to Heaven. Siapa yang kasih nama? Diaaah!
 Kami akhirnya sampai di Ulu Watu tanpa insiden kesasar dan sebagainya. Dan, Ulu Watu itu, membuat Diah terpesona.
Diah yang sedang terpesona
Pura di atas tebing
Uluwatu adalah sebuah bukit di bibir pantai selatan pulau Bali. Dari Ulu Watu kita bisa melihat laut Bali yang berwana percampuran antara hijau dan biru. Diah menyebutkan namanya berkali-kali, namun saya lupa. Bagi saya, kalau tidak hijau ya biru atau percampuran keduanya. Yah, otak setengah laki-laki. Pantas saja Ulu Watu membuat Diah terpesona, karena pemandangannya memang mempesonakan.
Laut, memandangnya memang menenangkan. Perpaduan angin sepoi sepoi, suara deburan ombak dan hampir nihil suara kendaraan. Suasana yang tepat untuk mengheningkan cipta sejenak. Mengingat kembali kesalahan-kesalahan, nikmat-nikmat yang diberikan hingga hari ini dan mungkin juga kenangan masa lalu. Eh, jangan baper. Tapi sepertinya Diah mulai baper. Haha.


Sepatu saya ngeksis dulu yes.
Di Ulu Watu kami bertemu keluarga yang sedang berdoa di salah satu pura yang terletak diatas tebing. Pura ini sering nongol di foto-foto loh. Memang, pemandangannya aduhai jika diabadikan.
Setelah puas berkeliling sepanjang bibir tebing pantai, dan foto-foto yang penting saja, kami memutuskan untuk makan. Ya, kami sepagian belum makan apa-apa. Tadi pagi sebelum meninggalkan penginapan kami tidak mengambil jatah makan kami yang disediakan penginapan. Masih kepagian, sarapan belum siap. Saat itulah turis-turis mulai berdatangan dan mulai ramai. Jadi seneng karena dateng pagi dan bisa mengambil gambar tanpa ada backgroud orang yang lagi foto juga.
TInggal Diah yang ngeksis.
Lagi-lagi memilih makanan menjadi permasalahan. Namun, melihat sebuah warung dengan ibu-ibu yang mengenakan hijab sebagai penjaganya membuat kami tenang. Salah satu rejeki ya begini. Mudah mencari makanan yang insyaAllah halal.
Akhirnya, bye-bye Ulu Watu. Mungkin kita akan bertemu lagi lain waktu karena nampaknya Diah masih kesengsem dengan tempat yang satu ini.
Sebelum Dzuhur, kami kembali lagi ke penginapan. Kasur melambai-lambai, menggoda kami untuk meringkuk diatasnya. Namun godaan itu harus dienyahkan karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Timur mencari kitab pengalaman. Lagipula, sebentar lagi kami harus cek out atau membayar lagi.
Warna lautnya namanya apa Di?
Kami meninggalkan pantai Kuta kearah Denpasar. Kami berniat untuk mampir makan siang di SS Denpasar (OMG, lagi-lagi SS?). Masih berpedoman pada Map, kami memacu motor dengan kecepatan sedang. Sayangnya, kami kesasar. Map di handpone memandu kami memasuki jalan yang salah. Awalnya sih percaya-percaya saja ketika di bawa blusukan ke perumahan bergang sempit mengingat perjalanan tadi pagi. Namun kali ini kami harus mengakui, Map ini tidak selalu benar.
Namun, apalah arti perjalanan tanpa kesasar. Itu adalah bumbu yang akan menyedapkan sebuah pengalaman. Namun ya jangan lama-lama lah kesasarnya. Cape tau. Akhirnya kami berhasil kembali kejalur yang benar setelah memulihkan signal provider. Mbak-mbak pelayan berompi merah menyambut kami dengan ramah, dan sambal belut dengan pasti di pesan sama Diah.
Perjalanan dilanjutkan ketika hari mulai beranjak senja. Kami menuju pelabuhan Padang Bai yang berjarak sekitar 48 Km dari Denpasar. Jalan yang kami lalui lurus saja, mirip jalur alternatif Yogyakarta-Kebumen.
Pelabuhan Padang Bai, Bali.
Nah, sekali lagi ini enaknya naik motor/kendaraan sendiri. Bebas menikmati jalan, bebas mau pelan atau cepet, bebas mau berhenti atau lanjut tanpa di buru-buru dan diperintah agar cepet-cepet.
Sejam kemudian kami sudah sampai di Padang Bai. Suara ombak pantai dan klakson (atau entah apa namanya) bersahutan. Yeeey, naik kapal setelah sekian lama. Terakhir yang saya ingat naik kapal itu pas ke Kulon Progo. Itu pun kapal kecil. Kapal besar, pas dari atau ke Kalimantan. Tapi itu ukuran kapalnya jauh-jauh lebih besar. 

Kapal-kapal speed boat. Sayang kami harus menghemat uang.
Ada dua pilihan sebenarnya. Naik perahu very penyebrangan atau naik speedboot yang cepat namun harganya mahal. Karena kami sudah mengeluarkan banyak dana untuk naik pesawat, akhirnya kami memutuskan untuk naik very penyebrangan yang memakan waktu 4 jam diatas laut. Belum terhitung menunggu perahu berangkat. Kami membayar sekitar Rp 120.000 untuk berdua plus motor.
Beruntung, ketika kami sampai di pelabuhan, sebuah kapal akan segera berangkat. Jadi, hanya menunggu sebentar saja, akhirnya kapal menarik jangkar.
Pada moment-moment seperti ini saya  membayangkan diri sebagai Luffy, si bajak laut. Makanya saya memilih duduk di dek atas bagian depan meskipun angin yang berhembus cukup kencang. Karena saya orangnya tidak romantis, film Titanik tidak terfikirkan oleh saya.


Kakinya Luffy dan Sanji. Eh, Diah dan Muji.
Kapal very penyebrangan Padang Bai-Lembar (nama pelabuhan di Lombok) menurut saya cukup baik. Meski tidak baru, namun cukup bersih. Namun, tetap saja, toilet masih perlu perhatian. Ada beberapa toilet yang rusak, dan belum lagi kran yang bocor sehingga lantai area kamar mandi basah. Ini sedikit meriweuhkan (aduh bahasa mana ini) saya yang harus berwudhu dan memakai kaos kaki. Yeyy, akhirnya saya sholat diatas kapal!
Menggalau lagi.
Senja di atas kapal itu indah. Tapi karena kali ini perjalanan menuju arah timur dan matahari harus tenggelam diatas pulau Bali, tidak terlalu menakjubkan. Coba jika pagi, matahari keluar dari atas laut, kan amazing sekali.
Senja di atas kapal
Tapi, malam di kapal tidak terlalu menyenangkan. Angin darat berhembus kencang. Eh, ko angin darat? Kan sedang di laut. Iyap, namanya angin darat, karena angin berhembus dari darat ke laut. Ituloh, pelajaran Geografi. Ada dua angin akibat perbedaaan tekanan dan suhu antara darat dan laut, yaitu angin darat dan angin laut. Angin Laut yaitu angin yang terjadi akibat tekanan udara di darat lebih rendah. Sebagaimana sifat angin yaitu bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, begitupun angin Laut. Tekanan ini terjadi akibat suhu di lautan yang lebih rendah akibat laut yang lambat menerima panas dan lambat melepaskannya. Ingat ya, tekanan berbanding terbalik dengan suhu. Maka angin laut terjadi pada siang hari. Lalu, pada malam hari terjadilah angin darat karena tekanan udara di daratan lebih tinggi daripada di laut.
Angin darat ini menyebabkan ombak yang cukup tinggi. Berkali-kali ombak menghantam lambung kapal sehingga kapal terombang-ambing di tengah lautan. Bukan karena apa-apa. Saya pun tidak membayangkan yang macam-macam. Hanya saja, perut saya mulai berontak karena diombang-ambingkan. Ternyata tidak Cuma perasaan saja yang lelah ketika terlalu lama diombang-ambingkan.
Pada saat itulah saya teringat, di Lombok nanti kami menginap dimana?
Ombak yang mengombang ambingkan kapal. Bukan hati ya..
Sebelumnya saya sudah browsing tentang penginapan di Mataram. Ada beberapa penginapan backpaker murah, namun jaraknya memang agak jauh dari pelabuhan. Sedangkan perkiraan kedatangan kami di pelabuhan Lembar adalah jam sepuluh lebih. Jam sepuluh ukhti. Masih kelayaban aja. Sepasang suami istri, penumpang yang mengobrol akrab dengan kami pun menyarankan agar kami mencari penginapan di dekat pelabuhan saja. Tapi kami masih zonk dengan penginapan dekat pelabuhan.
Akhirnya saya memutuskan untuk menghubungi penduduk lokal. Namanya Mas Haris. ‘Sesepuh’ yang saya kenal di FLP. Semoga saja dia tahu penginapan dekat pelabuhan.
Tak disangka, Mas Haris menyarankan kami untuk menginap dirumah beliau saja. Begitupun kedua orang tua beliau. Iya, dua gadis malam-malam mau keluyuran di tempat yang tidak dikenal itu bahaya. Penumpang suami istri itu pun menyarankan demikian. Akhirnya setelah dengan pertimbangan ini itu, dan menghilangkan ego karena akan merepotkan orang lain, kami menyetujui. Lagian, backpaker miskin ditawarin penginapan gratis, masa nolak (ehh).
Malam di kapal. Angin terlalu kencang untuk tetap berada di luar.
Benar, jam sepuluh kami tiba di pelabuhan lembar. Sepasang suami istri yang kami temui di kapal selanjutnya menjadi pemandu kami menyusuri jalan ke Ibukota NTB, Mataram. Ditengah jalan, kami akan di jemput Mas Haris. Tepatnya di dekat patung landmark Lombok Barat, Giri Menang.
Pulau Lombok di malam hari, tidak terlalu jelas. Apalagi kondisi saya yang setengah mabuk laut. Yang ada dipikiran saya hanyalah bagaimana secepatnya merebahkan diri diatas kasur. Mengendarai sepeda motor pun rasanya sedikit oleng. Ditengah-tengah ketidakjelasan, akhirnya kami bertemu dengan Mas Haris dan langsung diajak ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Mas Haris, sambutan hangat keluarga beliau membuat saya terharu. Apalagi akhirnya saya bertemu dengan istri baru beliau. Ya, jadi ceritanya Mas Haris itu masih jadi pengantin baru, dan malam ini mereka rela kami ganggu. Mba Maryam, istri Mas Haris menyambut kami dengan teh hangat.
Karena hari sudah malam, tuan rumah langsung mempersilahkan kami untuk istirahat. Yah, besok pagi akan ada tempat lain untuk dijelajahi dan yang paling menyenangkan adalah, besok kami akan ditemani Mas Haris, Mba Maryam dan adik Mas Haris, Mas Fahmi. Yeey.
Besok kami mau kemana?

To be continue.. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Friday 20 January 2017

Bali-Lombok: Ketika Aku Hilang dan Menemukan Part 1

Tahun berlalu, hiruk pihuk berganti dengan kesunyian dan berganti lagi dengan keramaian. Berputar terus menerus bersama waktu. Akhirnya, saya memutuskan untuk melengkapi cerita ini dan mempublikasikannya. Ini adalah penebusan atas dosa yang saya lakukan. Dosa karena tidak ijin pada orang tua ataupun keluarga, ataupun organisasi yang saat itu mengamanahkan saya jadi ketua. Bukan ijin, Cuma pemberitahuan. Duh, bocah bandel memang.
Ya, ini kisah perjalanan saya mbolang selama enam hari di Bali dan Lombok. Backpaker lokal ala-ala. Bertanggal 24 Juli 2015- 29 Juli 2015. Kisah nekad saya yang kesekian.
Enam hari di Bali Lombok ngapain? Habis Berapa duit? Perjalanan naik apa? Bagaimana disana? Kemana aja? Dapet pengalaman apa aja?
Dan, beginilah kisahnya.
Day 1
Setelah semalaman ngrepotin Nik sama Aeni karena saya dan partner in crime saya (baca. Diah) nginep di kos mereka, paginya mereka kami repotan untuk mengantar kami ke bandara. Pagi buta!
Tentu saja jalanan lenggang. Dingin-dingin semribit, tapi, tunggu. Kapan lagi bisa kebut-kebutan di jalanan Jogja yang akhir-akhir ini mulai memadat. Dan, benar saja. Gas sepeda motor mulai ditarik, dan mulai melaju dengan kekuatan hampir penuh. Tak heranlah, kami sampai kurang dari setengah jam. Dari jalan Kaliurang km 8 hingga jalan solo km 9, atau bandara Adi Sucipto Yogyakarta yang berjarak 13 km.
Setelah cipika cipiki, saya dan Diah segera menuju bagian keberangkatan. Setelah cek in, kami segera ke mushola bandara. Iya, tadi kebut-kebutannya kita belum Sholat Subuh. Alhamdulillahnya selamat.
Saya ngga perlu ngurusin koper ke bagasi deelel karena memang ngga bawa. Jadi bawaan saya itu hanya backpack ukuran 20 liter yang biasanya dipake buat sekolah atau kuliah. Bukan untuk jalan-jalan. Isinya cuma 3 baju, 3 rok, 3 jilbab dan pernak pernik, kaos kaki agak banyak, alat mandi (yang cuma sabun cair, sikat, odol sama face wash), obat-obatan, charger hp, dompet kecil, buku, pulpen dan alat make up yang hanya lipgloss dan lotion. That simple. Lebih sedikit daripada bawaan kalau mau naik gunung yang cuma sehari semalem. Karena apa? Karena perjalanan kali ini insyaAllah tidak akan jauh dari peradaban.
Dan, setelah beberapa lama menunggu, Ini dia! Saya akhirya menginjakan kaki pertama kali di pesawat ‘beneran’. Norak? Ngga ko. Saya ngga foto-foto selfie dulu di deket pesawat atau jejingkrakan. Kalem aja. Alasannya, besok-besok juga mau naik lagi. Sering. Ngapain selfie (ini doa). Lagipula, naik maskapai pesawat yang tingkat kecelakaannya tinggi. Duh, mau bangga gimana coba. Alhamdulillahnya sih, ngga menggigil ketakutan, parno dst. Berasa udah biasa aja naik pesawat. Pas mau take off juga biasa aja. Mungkin ini efek keseringan naik komidi putar pas kecil. Jadi, pengalaman naik pesawat pertaa kali itu, biasa.

Dua jam kemudian, saya sudah berpindah pulau. Bali!!!
Selamat datang di Bali. Pic by Diah.


Iya, ini pertama kalinya juga saya ke Bali, plesiran. Dulu SMA ngga ada studytour ke Bali. Padahal angkatan sebelumnya dan sesudah ada studytour ke Bali. Kenapa angkatan saya ngga ada? Entahlah, saya sudah lupa. Jadi memang exited juga untuk menjelajah Bali. Apalagi kita akan menjelajah Bali dengan motor!
Setelah keluar dari pesawat, handpone pintar nan tangguh langsung saya aktifkan, segera menghubungi Mas Bayu, pemilik rental motor yang nomornya saya dapat di internet.
Dengan berbagai pilihan rental motor di Bali entah kenapa saya mantap dengan sewa motor Mas Bayu. Setelah bertemu dengan orangnya, istrinya dan anaknya, hati saya bergumam, ini takdirnya Allah. Seneng juga, ketemu Mas Bayu dan keluarganya yang muslim ditengah-tengah masyarakat non muslim.
Sewa motor sama Mas Bayu itu Rp 50.000/hari/24jam. Bisa serah terima langsung di parkiran bandara. Kami dapat motor Next tahun 2014, warna hijau, include helm 2 buah, stnk, mantol/jas hujan. Ada beberapa motor yang lain. Yah, meski biasanya saya naik motor ‘gigi’, mengingat ini perjalanan jauh, motor matic jadi pilihan. Syarat sewa gampang banget, cuma KTP saya di foto. Mas Bayu pokoknya sudah tsiqoh sekali sama pelanggannya. Yang mungkin mau ke Bali dan mau nyewa motor, bisa hubungi Mas Bayu (087860985449)
Motor sudah dikendarai. Selanjutnya, kita kemana?
Sebuah tugu di tengah jalanan Bali.
Tebakan, namanya apa?


Entah karena males, atau emang males, kami berdua belum booking penginapan. Mottonya, ntar lihat di lapangan aja. Jadi, setelah keluar dari bandara, kami ngga tahu harus kemana. Apalagi saya yang buta Bali. Orang belum pernah ke Bali. Diah juga sepertinya. Sepertinya bingung, padahal dia udah sering ke Bali. Aduh. Jadilah kami mbolang beneran. Cuma ngikutin petunjuk jalan yang ngga jelas tanpa arah tujuan yang pasti. Setelah sedikit berdiskusi, dan bertanya teman sana sini, akhirnya diputuskan kami menuju Pantai Kuta. Denger-denger disana banyak penginapan backpaker murah.
Sampai di Pantai Kuta, benar, banyak penginapan. Tapi yang murah yang mana? Ditengah kebingungan nyari penginapan murah, perut yang memang belum diisi sedikitpun mulai protes. Masalah selanjutnya, dimana nyari tempat makan halal? Scara, kita di Bali dan kita berdua muslim. Akhirnya, setelah mlipir sana sini, nemu juga rumah makan Padang! InsyaAllah halal. Tenyata, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Setelah perut kenyang, kami juga dapat informasi penginapan murah dari mas-mas yang jaga rumah makan Padang tadi. Memang ya, tanya sama penduduk lokal itu, the best. Kami segera meluncur ke lokasi penginapan yang Cuma beda satu blok sama rumah makan padang.
Penginapan itu bernama Losmen Arthawan di jalan pompies II. Kalau mau di cari di Google Map, ada. Kami dapat kamar, dua bed dengan sewa Rp.100.000/24 jam/jam cek in sampai jam 12 siang (cek out). Kamarnya biasa kamar kos-kosan Jogja tingkat menengah, ada kamar mandi dalem, ada lemari, ada handuk bersih. Yang paling penting sih ada colokan. Scara, HP yang tangguh sudah mulai kehabisan energi setelah sepagian buat browsing ini itu.
Setelah sholat Dzuhur dan Asar yang dijamak, dengan permasalahn klasik menentukan arah kiblat, kami putuskan untuk istirahat sejenak sebelum keliling (sebagian) Bali. Saya ambil note kecil bergambar One Piece untuk membuat itinerary sederhana. Iyah, kita baru bikin itin pas udah sampai di tempat tujuan. Kan, mottonya lihat aja ntar dilapangan. Ini sungguh jangan diikuti kalau kamu pengen liburan dan perjalanana kamu terjadwal, tertata dan terencana. Tapi karena kami berdua orangnya sama, ngga punya planing dan males bikin planing akhirnya ya begini.
Setelah browsing-browsing, liat apa yang agak aneh di Bali akhirnya diambil beberapa keputusan. Sore nanti kita akan pergi kearah Utara. Tujuannya belum tahu. Pokoknya ke arah Utara. Entah nanti ada apa.
Sejenaknya itu ternyata dua jam lebih. Pukul 14.30 WITA kami baru tersadar tujuan kami ke Bali itu bukan pindah tidur. Kadang saya kalo jalan-jalan gini bingung sendiri, tujuannya itu pindah tidur atau eksplore tempa baru sih. Bagi saya, tidur itu adalah sosok yang sulit sekali dikalahkan. Dimanapun berada.
Kami membelah jalanan Bali yang nampak asing. Tentu saja berbekal aplikasi map di handpone pintar.
Bali itu, jalanannya lebih unggul daripada Jawa Tengah dan Jawa Timur. Aspalnya sudah bagus. Ngga ngenjal-grenjul dan bolong-bolong. Meski tetap masih khas Indonesia. Kalau pemakainya, baik pengendara sepeda motor maupun mobil, masih kalah sama DIY soal ketertibannya. Tapi sudah mendinglah. Selama perjalanan sore itu saya ngga menemukan macet berkepanjangan.
Saya dan Diah sempat berganti mengendarai. Dia di depan, menjadi sopir dan saya bertugas sebagai penunjuk arah. Tapi, baru beberapa kilo, saya menyerah. Saya masih mau jalan-jalan ke Lombok dan naik pesawat lagi, dan yang terpenting, saya masih ingin menikah sebelum kenapa-kenapa. Saya lalu ‘merebut’ kemudi.
Lewat pedesaan di Bali itu tentu nuansanya berbeda dengan di Jawa. Setiap rumah, bukan gapura 17an tapi gapura selayaknya gapura candi. Eksotik gitu ukirannya. Belum lagi wangi kembang dan dupa dimana-mana. Mrinding-merinding sedap. Tapi jadi inget jalanan disekitar pasar kranggan. Duh, Jogja lagi. Kelamaan di Jogja nih kayaknya. Sawah di Bali juga berbeda, meski ngga beda-beda jauh. Tapi karena saya berasal dari desa yang 10 meter dari rumah itu sawah, jadi tidak terlalu perhatian dengan sawah-sawah disana dengan sistem subaknya. Satu lagi, kayaknya di Bali semua rumah punya pohon bunga frangipani.
Ada yang mau kenalan?
Setelah menempuh perjalanan hampir 35 km akhirnya kami sampai di Monkey Forestnya Bali. Duh, jauh-jauh ke Bali cuma mau liat monyet? Habisnya kami sudah bingung mau kemana lagi. Keburu sore. Ini nih, akibat ngga punya rencana sebelum-sebelumnya. Tapi ini menariknya, kami ngga punya ekspetasi apa-apa, jadi ngga kecewa.


Diah in action. Beruntung,
jembatannya belum ditambahin
atribut alay. Semoga saja tidak pernah!
Monkey Forest, seperti namanya, isinya ya hutan dan kera. Keranya banyaakk. Beneran banyak. Kita bisa langsung interaksi juga sama mereka. Mau elus-elus mereka bisa, tapi hati-hati, bisa-bisa dielus-elus mereka terlebih dahulu, alias dicakar. Biasa, monyet kan agresif. Loncat sini loncat sana. Yang menarik itu ketika ada petugas yang bawa makan sore banyak. Semua kera ngumpul. Mulai dari yang simbah-simbah kera, sampai yang bayi masih nyusu sama ibunya. Ngumpul semua. Rebutan makanan sampai berbagi makanan. Dan yang iconik dari Monkey Forest di Bali itu, ya tentu saja, bayak sekali pura nya. Setiap sudut selalu aja ada. Jadi bener-bener Bali deh. Meski di dalam hutan sekalipun.

Setelah puas menjadikan monyet sebagai objek foto, kami berjalan kaki dijalanan sekitar area hutan. Jalan sekitar dua meter itu cukup ramai. Kanan kiri jalan merderet pertokoan modern. Baju-baju ataupun berbagai pernak-pernik dipajang di etalase kaca. Mungkin pasar mereka adalah orang-orang menengah diatas. Bisa dilihat sih, mayoritas turis di Monkey Forest ini adalah turis asing. 
Jalanan di dekat Monkey Forest

Puas berjalan dan melihat-lihat, kami memutuskan kembali kepenginapan. Senja yang jingga sudah mulai berganti warna menjadi gelap. Kami kembali menyusuri jalanan yang asing tapi menyenangkan. Sebelum sampai ke penginapan kami memutuskan untuk mampir makan, dan saya ingat, diperjalanan berangkat saya melihat sebuah rumah makan yang tidak asing dan pasti halalnya. Tepat di jalan Tukad Barito Timur No. 33 saya membelokan kemudi.
Pelayan Warung Spesial Sambal dengan rompinya yang berwarna merah menyambut saya.
Apppppppaaaa??? Jauh-jauh ke Bali makannya di SS? Kayak di Jogja ngga pernah aja. Yah, daripada susah-susah nyari makanan halal dan tempat sholat. Dan, semoga saja harganya semurah di Jogja. Tapi ternyata harga sudah disesuaikan dengan standar hidup di Bali. Tapi masih terjangkau kok sama dompet bakcpaker kere macam saya.
Kami kembali melanjutkan perjalanan. Hari sudah benar-benar gelap, dan kami lupa jalan pulang!!!

Akhirnya dan akhirnya kami kesasar. Belum lagi GPS handphone yang kayaknya tidak mau bekerja sama. Tapi kami tetap optimis. Kami pasti sampai. Alhamdulillah, benar juga. Kuta Bali itu ternyata cukup mudah ditemukan. Tidak salah jika mencari penginapan disini (menghibur diri). Pukul 19.00 WITA kami sudah kembali ke penginapan. 
Numpang Foto dulu ya, Hard Rock Hotel.
Nginepnya ngga tau kapan.

Setelah rehat sejenak (ini benar-benar sejenak), kami memutuskan menikmati malam Kuta. Kami keluar penginapan dan berjalan kaki kearah pantai. Mampir ke toko pinggir jalan dan beli sendal jepit KW tapi harganya ngga KW, foto-foto di icon HardRock Kafe, trus lanjut ke Matahari mall belanja perlengkapannya Diah. 
Suasan Pantai Kuta malam hari,
sendu-sendu gimana gitu.
Selanjutnya kami menuju pantai. Gelap dan sunyi. Tidak ada lampu yang terang benderang. Hanya ada kelip lampu dari kejauhan. Hanya ada beberapa orang yang terduduk di pasir. Mendengar deburan ombak atau memandang langit. Dilangit, rembulan menggantung hampir sempurna, dan laut menjadi refleksi yang aneh. Tak terlalu sempurna indah namun menghasilkan gambaran magis.
Pantai di malam hari memang selalu menarik. Sayangnya bintang tak ikut menyemarakan malam itu. Terhalang awan-awan.
Setelah puas melihat kehidupan malam yang belum malam-malam banget, kami memutuskan pulang. Saya yang kebiasaan punya jam malam jam 9 dan sering berusaha patuh, berada di luar rumah lebih dari jam segitu agak tidak nyaman juga. Pukul 10 lewat sedikit kami sudah kembali ke penginapan. Membersihkan diri dan tidur. Besok masih ada hari yang harus di sambut dan tempat-tempat yang harus di jelajahi.
Besok, akan ada Bali selatan dan menyebrang Selat Bali-Lombok. Masih dengan motor!

To Be Continue...
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com